Friday, October 5, 2007

Bukti Baru Makanan Barat Tidak Aman

Bukti Baru Makanan Barat Tidak Aman
# by Admin - 21 Feb 04 10:05:57


Bukti Baru Makanan Barat Tidak Aman


Selama ini negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, sering dicap menghasilkan makanan yang tidak aman. Beberapa kasus penolakan terhadap produk makanan dari Indonesia terjadi Amerika, Jepang dan Eropa, seperti kasus udang beku yang tercemar, ikan yang terkontaminasi dan makanan olahan yang menurut mereka tidak layak konsumsi. Penolakan semacam itu jelas merugikan pihak Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Selain kerugian finansial, yang lebih penting adalah munculnya citra yang jelek terhadap produk pangan Indonesia.

Pada awal Februari 2001, FAO, yaitu organisasi pangan sedunia yang bernaung di bawah PBB memperingatkan Eropa dan negara-negara di luar Eropa agar waspada akan bahaya BSE (bovine spongiform encephalopathy) yaitu penyakit gila sapi. Penyakit yang menyerang otak sapi itu dapat menular pada manusia yang memakan dagingnya. Oleh karena itu diperingatkan bahwa sapi gila itu sangat berbahaya bagi konsumen. Kini sapi gila juga muncul di Amerika. Sebuah fenomena menarik, karena selama ini Amerika dianggap sebagai kiblatnya makanan sehat. Mereka selalu gembar-gembor bahwa produk pangan merekalah yang paling aman dan sehat.

Pertama di Inggris Kasus pertama sapi gila ditemukan di Inggris pada sekitar pertengahan tahun 80-an. Pada 1986 para ahli di Inggris menemukan bahwa penyebab BSE, penyakit yang menyerang otak ini, adalah pakan (makanan ternak). Pakan itu mengandung sisa-sisa ternak sembelihan seperti isi perut (jeroan) dan tulang belulang yang tidak dijual untuk konsumsi manusia. Sisa-sisa itu diolah menjadi makanan ternak yang disebut MBM (meat bone meal). Walaupun sudah diketahui penyebabnya, ekspor pakan dari Inggris, masih tetap berlangsung.

Pada kenyataannya makanan ternak dari negara-negara anggota Uni Eropa lain juga diekspor ke Asia, Afrika, Eropa Timur dan Amerika Serikat, walaupun ke AS tidak begitu banyak. Oleh karena itu FAO mengeluarkan peringatan pada negara-negara di luar Eropa. Ekspor daging sapi dan produk-produk sapi dari Inggris ke negara-negara Uni Eropa pernah dihentikan. Hubungan Inggris dan Perancis sempat menjadi tegang karena Perancis bersikukuh memboikot produk sapi Inggris karena takut mengimpor penyakit sapi gila itu.

Yang membahayakan dalam kasus BSE ini adalah, bahwa manusia yang mengkonsumsi produk sapi yang sakit bisa terjangkit variant penyakit itu berupa Creutzfeldt Jakob. Namun apa yang harus dihindari oleh konsumen sampai saat ini kurang jelas. Cukup banyak konsumen di negara-negara Uni Eropa yang kemudian mengurangi makan daging sapi. Tadinya dikatakan daging sapi tidak akan menyebabkan Creutzfeldt Jakob pada manusia, yang harus dihindari adalah makan jeroan.

Permasalahan berikutnya tidak hanya berhenti pada daging. Ada beberapa jenis makanan olahan yang dibuat dari hati atau organ-organ lain dari tubuh hewan, yang perlu diwaspadai, seperti misalnya sosis. Namun kemudian dikatakan bahwa daging yang letaknya dekat tulang, misalnya T-bone steak juga berbahaya. Daging steak yang digemari banyak orang ini, kalau berasal dari sapi yang sakit maka akan bisa menyebabkan Creutzfeldt Jakob pada manusia. Ini adalah penyakit yang sekarang amat ditakuti di Eropa, karena penyakit ini menyerang otak, yang adalah inti kemanusiaan.

Konsumsi Daging Sapi Menurun Konsumsi daging sapi di Eropa belakangan ini menurun amat deras. Dengan demikian persediaan daging sapi di pejagalan dan kamar-kamar dingin di beberapa negara Uni Eropa menimbun. Namun harga daging sapi di tukang daging atau di pasar swalayan tidak menurun. Itu adalah berkat subsidi Uni Eropa pada sektor pertanian.

Konsumen merasa ngeri dan takut oleh akibat yang akan ditimbulkan oleh munculnya penyakit akibat sapi gila. Kecemasan itu secara psikologis kemudian menjadi sebuah generalisasi terhadap semua jenis daging sapi, baik yang mungkin tercemar sapi gila, maupun daging yang sebenarnya sehat. Akibatnya penjualan daging sapi, baik daging segar maupun daging olahannya menurun drastis dan membawa dampak buruk bagi industri peternakan sapi serta industri olahan yang mengolah daging sapi.

Eropa tidak berhasil dipulihkan dengan peraturan Komisi Eropa yang mengharuskan sapi-sapi di atas 30 bulan diuji dulu kesehatannya sebelum dibawa ke pejagalan. Banyak pakar mengatakan bahwa justru makan daging sapi saat ini adalah yang paling aman, karena keamanan daging sapi potong betul-betul diperiksa sebelum sampai di tukang daging atau pasar swalayan. Sekarang bahkan sudah ada suara-suara yang menghendaki batas umur uji untuk sapi diturunkan dari 30 bulan menjadi 24 bulan.

Peraturan-peraturan ini tampaknya tidak banyak mengubah kecurigaan konsumen. Hal ini bisa dimengerti, dalam waktu singkat konsumen di negara-negara Uni Eropa berturut-turut dihadapkan pada berbagai pencemaran makanan, ayam yang keracunan dioxin, salmonela, penyakit sampar babi dan sekarang BSE, kemudian penyakit mulut dan kuku (PMK). Konsumsi daging sapi di negara-negara anggota Uni Eropa antara Oktober 2000 sampai Januari 2001 turun 30% . Konsumsi daging sapi di Jerman dan Italia, dua negara pemakan daging sapi terbesar, turun antara 40 dan 50%. Hanya konsumsi daging sapi di Spanyol yang tidak turun.

Krisis BSE di negara-negara Uni Eropa sudah berlangsung cukup lama. Masalah ini kian lama kian membelit Uni Eropa. Ketika sudah banyak negara khawatir akan BSE, Jerman, Italia dan Spanyol tetap mengatakan bahwa negara mereka bebas BSE. Ternyata tidak benar. Di Jerman bahkan dua menteri turun jabatan gara-gara skandal BSE. Krisis BSE merupakan beban besar bagi Uni Eropa. Sampai awal 2001 di Inggris tercatat hampir 179.500 kasus BSE, di Irlandia 600, di Belgia 22, Belanda 9, Denmark 3, Jerman 25, Spanyol 9, Italia 9. Jumlah kasus BSE di seluruh Eropa barat adalah 181.251. Sapi-sapi itu harus dibinasakan dan para petani diberi ganti rugi. Namun sekarang belum dipecahkan bagaimana dengan tumpukan daging sapi yang tidak laku dijual?

Dengan adanya krisis kepercayaan konsumen, maka negara-negara anggota Uni Eropa hendak menggalakkan pertanian dan peternakan yang berwawasan lingkungan. Petani-petani organik yang bercocok tanam tanpa menggunakan pupuk buatan dan obat-obat pemberantas serta peternak yang memelihara ternak secara alamiah akan diberi berbagai kemudahan sehingga jumlah pertanian dan peternakan semacam ini bisa meningkat pesat. Uni Eropa menyadari bahwa sampai saat ini yang diutamakan adalah memproduksi bahan pangan dan kurang mengindahkan kualitas makanan. Sejak keamanan makanan di Eropa diragukan, minat makanan pengganti daging, seperti tempe dan tahu, meningkat. Demikian juga permintaan daging dari peternakan ramah lingkungan

http://www.halalmui.or.id/?module=article&sub=article&act=view&id=49